BERSEPEDA ‘KRING-KRING’ ALA HOKKAIDO

sepeda

Di Indonesia, bersepeda adalah hal yang semakin jarang ditemui. Tuntutan kenyamanan terkait panasnya cuaca dan fasilitas untuk penyepeda (kata bentukan baru nih?) yang mungkin sedikit terlupa oleh para konseptor jalan raya bisa jadi kontributor semakin tidak diminatinya sepeda sebagai sarana transportasi. Semakin padatnya lalu lintas kendaraan juga membuat orang memilih melakukan strategi total attack-nya Belanda. “Pertahanan terbaik adalah menyerang” alias biar tidak diperlakukan tidak sopan oleh pengguna sepeda motor dan mobil yang tak beretika, pertahanan terbaik adalah dengan naik mobil atau sepeda motor..!

Saking pentingnya bersepeda, kegiatan satu ini pun terkadang harus diagendakan atau juga harus diliput oleh wartawan. “Bike to Work”atau “Sepeda Santai Berhadiah plus Hiburan CampurSarDut (Campursariplusdangdut)” adalah contoh dari usaha penggalakan penggunaan sepeda yang tentu saja layak diapresiasi, bagaimanapun juga.

Di Jepang, sepeda adalah salah satu alat transportasi favorit. Fasilitas untuk penyepeda pun terperhatikan. Terkhusus di Sapporo dan wilayah lain di Pulau Hokkaido pada umumnya, sepeda adalah Makhluk 8 Bulan. Dia hanya ‘hidup’ atau menelusuri jalanan sekitar delapan bulan saja. Pada bulan Desember, Januari, Februari dan Maret, sepeda berhibernasi di kandang karena jalanan berubah menjadi ladang dan bukit salju feat. es di sepanjang aspal. Tentu saja ini ada perkecualian untuk para bapak-bapak sugoi Indonesia (sekitar 5-7 orang) yang itsudemo, dokodemo, doudemo, sepeda is on the road..!! Sakti benar beliau-beliau..!

Berikut ini adalah sedikit tips bagi penyepeda (humm.. pengguna sepeda aja deh) nanti jika waktunya telah tiba untuk kembali bersepeda:

  1. Selalu siaga mengamati bahasa tubuh pengguna sepeda dari arah berlawanan kita. Jika di Indonesia kita akan selalu patuh bersepeda di sebelah kiri, orang Jepang bersepeda di dua posisi. Kecenderungan justru adalah mereka akan mengambil posisi kanan dengan kata lain posisi kiri kita. Kalau kita ngeyel di posisi kiri, dan seorang Jepang ngeyel di posisi kanan, jiko daa… Tabrakan deh..!
  2. Jika ada pejalan kaki di depan Anda yang menghalangi jalan sekalipun, meminta jalan dengan membunyikan bel “kring-kring-kring” dengan sembarangan adalah sesuatu yang tidak dianjurkan. Lebih baik Anda mengerem, lalu menunggu waktu dan celah yang tepat untuk menyalipnya. Trik lain adalah seperti yang dicetuskan oleh Pak Nur Surabaya yang sering menaruh sekantung pecahan gelas (mau debus, Pak?) atau sekantung kerikil di keranjang sepedanya, terutama saat beliau menantang jalanan es di musim salju, sebagai pengganti bel sepeda. Suara ‘kropyak-kropyak kencrang-kencring’ alias suara ribut dari benda-benda di dalam keranjang selalu sukses membuat pejalan kaki Jepang menoleh ke belakang dan mereka akan segera menyingkir dari jalur race Pak Nur.
  3. Pastikan rem bekerja dengan paten.
  4. Parkir tidak bisa sembarangan. Semakin besar sebuah kota, semakin tidak bebas kita berparkir ria. Salah-salah sepeda diangkut saat razia pelanggar parkir.
  5. Nyalakan lampu sepeda di malam hari. Di Sapporo, mungkin banyak orang yang tidak menyalakannya. Tapi, lebih baik tidak coba-coba mematikan lampu sepeda di Asahikawa atau kota kecil lainnya. Polisinya suka patroli. Penulis sudah mendapat ‘surat cinta’ warna kuning dari Pak Polisi Asahikawa karena lupa tidak menyalakan lampu. Senangnya, dapat kenang-kenangan dari Jepang…
  6. Berboncengan adalah dilarang. Apalagi yang dibonceng berakrobat di bagian belakang, misal: berdiri, duduk hadap belakang, dll.
  7. Bagi yang mempunyai anak, sepeda untuk membonceng anak adalah sepeda khusus yang dilengkapi tempat duduk untuk anak. Tidak bisa kayak jaman kecil penulis dulu yang duduk di boncengan belakang, tanpa sandaran belakang dan pengaman samping, cuma kaki yang diikat ke besi tempat dudukan ayah.
  8. Pastikan jelas asal-usul si sepeda. Beli, pinjam atau bagi-bagi dari universitas atau lainnya. Seringkali polisi mengecek nomor rangka sepeda atau apalah saya kurang paham saat kita dihentikan beliau-beliau.
  9. Bersepeda dengan arif dan bijaksana, penuh etika dan mendahulukan pejalan kaki. Walaupun pengguna kendaraan bermotor takut pada pengguna sepeda, di persimpangan atau penyeberangan, berhenti sejenak untuk melihat situasi sangat dianjurkan.

Tentu saja masih banyak hal lain yang patut diperhatikan terkait bersepeda di Hokkaido dan Jepang pada umumnya. Sembilan hal di atas hanyalah sekedar hasil lamunan penulis yang pada saat menulis ini, salju semakin menghujan menumpuk menggurun-putihkan tanah-tanah Asahikawa di luar sana…

(Asahikawa, November 27, 2013, 02.41 WIA alias Waktu Indonesia bagian Asahikawa..)