RAntai Tani

DISKUSI ONLINE PPI HOKKAIDO “Menilik Rantai Pasok Komoditas Pertanian Indonesia”

Diskusi Online PPI Hokkaido adalah suatu wadah dalam memahami beberapa isu yang sedang hangat terjadi di tanah air. Hal ini juga dapat menjadi suatu wadah pemahaman pemikiran beberapa pelajar di luar negeri tentang kondisi aktual di Indonesia.

Kami telah mengundang rekan-rekan semua untuk berdiskusi bersama dalam acara Diskusi Online PPI Hokkaido yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 2 Juli 2016; pukul 17.00 – 18.00 JST (15.00-16.00 WIB) serta disiarkan langsung melalui dan Fanpage PPI Hokkaido dan Channel Youtube PPI Hokkaido Hokkaido. 

Narasumber:
1. Dadeng Gunawan, SE, MM (Atase Pertanian KBRI Tokyo)*
2. Dr. Muh. Agung Sunusi (Kasubdit Aneka Cabai dan Sayuran Buah, Kementan)
3. Freddy Charles Lumban Gaol (Kandidat Ph.D. dalam bidang Farm Business Management, Hokkaido University)

Dimoderatori oleh:
Alfian Helmi (Master Student Regional Science Division, Hokkaido University)

Diskusi Online PPIH 2 Juli 2016
Diskusi Online PPIH
2 Juli 2016

Hampir setiap tahun, ketika memasuki bulan puasa, harga komoditas pertanian, khususnya cabai merah dan bawang merah cenderung mengalami peningkatan dan akan terus merangkak naik mendekati hari raya Lebaran.

Berbagai spekulasi terkait penyebab kenaikan harga ini pun muncul, mulai dari permasalahan supply-demand, kondisi cuaca yang tidak menentu, factor distribusi, hingga permainan para pemburu rente komoditas pertanian.

Bagaimanakah sebenarnya kondisi rantai pasok (supply chain) komoditas pertanian di Indonesia? dan Sejauh mana upaya pemerintah dalam mengendalikan harga komoditas pertanian tersebut dipasaran?

Berikut adalah beberapa kesimpulan hasil  diskusi online Persatuan Pelajar Indonesia Hokkaido (PPI Hokkaido):

Perwakilan dari Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, Dr. Muh. Agung Sunusi sebagai Kepala Sub Direktorat Aneka Cabai dan Sayuran Buah, Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat, memaparkan beberapa hal antara lain:

  1. Ketersediaan cabai merah dan bawang merah dapat dipastikan aman dan menindaklanjuti arahan dari Presiden RI untuk mengatasi kenaikan harga bawang merah dan cabai merah maka kestabilan harga jual di tingkat konsumen di Jakarta perlu dilakukan. Hal ini disebabkan karena harga di Jakarta digunakan sebagai acuan bagi harga-harga di pasar tradisional di seluruh Indonesia.
  2. Permasalahan yang mendukung kenaikan harga di tingkat konsumen di wilayah Jakarta pada saat menjelang hari Idul Fitri lebih disebabkan karena kelangkaan tenaga kerja di kebun petani, khususnya untuk pemanenan serta beberapa pedagang besar atau bandar besar yang mudik atau kembali ke kampong halaman untuk merayakan lebaran.
  3. Informasi dari Pasar Induk Kramat Jati dan Tanah Tinggi Tangerang diketahui ada pola yang selalu terjadi pada saat perayaan lebaran yaitu tradisi mudik para pedagang besar dan hal ini menyebabkan transaksi tersisa hanya 20 % dari hari normal. Oleh karena itu kenaikan harga tiap tahun pasti akan berulang.
  4. Permasalahan tambahan yang ditemui adalah adanya peraturan dari Kementerian perhubungan yang hanya memperbolehkan moda alat pengangkutan dengan kapasitas angkut maksimal antara 1-2 ton.
  5. Pemerintah dalam hal ini sudah melakukan beberapa operasi pasar murah di 31 titik pasar tradisional wilayah Jakarta, dimana pemerintah bekerjasama dengan beberapa pelaku usaha hortikultura unggulan atau champion yang juga sebagai mitra pemerintah dalam melakukan distribusi langsung dari beberapa kelompok tani untuk didistribusikan dalam operasi pasar dengan memotong 3 sampai 4 mata rantai.
  6. Dampak dari kegiatan operasi pasar adalah pengendalian meningkatnya harga tidak terlalu tinggi. Hal ini sudah dipantau juga bahwa harga di tingkat konsumen diharapkan untuk bawang merah adalah Rp15.000/kg, cabai merah Rp 18.000/kg di tingkat petani Rp15.000-17.000/kg, cabai keriting adalah Rp15.000/kg dan cabai rawit adalah Rp17.000/kg
  7. Pemerintah juga sudah menggiatkan pola tanam untuk mengatasi over supply dan kelangkaan produk dengan acuan produksi atau kemampuan pasokan untuk ketersediaan pasokan 1 tahun. Target produksi 991.00 ton untuk memastikan ketersediaan disepanjang tahun
  8. Harga pembelian pemerintah di tingkat petani bawang merah Rp15.000/kg dimana BEP 8.000-11.000/kg, Cabai keriting Rp 15.000/kg, cabai rawit Rp17.000/kg, HPP sudah di atas BEP sehingga merangsang semangat petani melanjutkan usaha.
  9. Beberapa strategi yang perlu dilakukan antara lain:
  • Penumbuhan beberapa ‘champion’ sebagai penggerak usaha dalam rangka pembinaan transfer kemampuan dalam manajemen agribisnis kepada petani
  • Manajemen stok diperlukan dalam mengendalikan kondisi yang berulang tiap tahun
  • Perlu penanganan teknologi pasca panen untuk memperpanjang masa simpan
  • Butuh keterpaduan lintas lembaga dan semua pemangku kepentingan karena kemampuan APBN Ditjen Hortikultura baru bisa berkontribusi untuk menyentuh 5% luasan produksi nasional.
  • Teknologi teknologi maju yang bisa dijadikan percontohan untuk pengembangan budidaya pertanian di Indonesia.

Sebagai pencermatan mahasiswa, Sdr. Freddy memaparkan beberapa hal, antara lain:

  1. Dalam memahami fenomena kenaikan harga cabai dan bawang merah di tingkat konsumen maka ada tiga aspek yang perlu dicermati, antara lain: proses terbentuknya harga ditingkat konsumen, kondisi rantai pasok serta terbentuknya harga di tingkat petani.
  2. Pembentukan harga di tingkat konsumen sangat rentan dipengaruhi oleh keseimbangan pasokan dan permintaan dan hal ini siklus berulang terjadi karena produksi atau musim tanam masih ketergantungan air dari musim hujan. Hal ini disebabkan karena belum ada teknologi pengendalian ketersediaan air untuk merubah musim tanam dan juga inovasi benih yang dapat ditanam selain musim hujan. Selain itu, pengendalian hama dan penyakit tanaman yang sangat mudah menyerang di musim hujan.
  3. Peningkatan harga juga dapat dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya karakter masyarakat yang sering mengkonsumsi bawang merah dan cabai merah, sehingga pada kondisi tertentu akan ada lonjakan permintaan yang tidak sesuai dengan alur kondisi pasokan.
  4. Peningkatan harga dalam skala periode yang relative singkat harian atau mingguan hendaknya tidak perlu disikapi dengan panik, hal ini dapat dipahami dengan pola konsumsi rumah tangga yang masih bisa menerima kondisi tidak mengkonsumsi dalam periode yang singkat, namun jika periode yang lebih lama lagi, maka hal ini akan berdampak besar khususnya para pelaku usaha rumah makan kecil yang akan mengalami dampak terhadap perubahan harga.
  5. Di sisi rantai pemasaran, tipikal rantai pemasaran ke pasar tradisional sangatlah berbeda jika dibandingkan dengan rantai pemasaran ke supermarket, restaurant, industry atau pengolahan, ekspor maupun impor.
  6. Rantai pemasaran pasar tradisional sangat tidak efisien dan tidak memperhatikan penanganan pasca panen, sehingga rentan dengan tingkat kehilangan dan tidak bisa mengendallikan periode simpan dan kenaikan harga terjadi di tiap mata rantai. Hal ini menjadi indikator rumitnya tata niaga di rantai pasokan pasar tradisional.
  7. Di sisi pembentukan harga di tingkat produsen atau petani, dengan tipe rantai pemasaran pasar tradisional, maka petani cenderung mengalami daya tawar rendah terhadap pengepul atau middleman yang disebabkan belum adanya collective marketing ataupun collective farming. Hal ini mengakibatkan petani yang sendiri-sendiri dan tidak memiliki rencana produksi sangat rentan menjadi obyek yang lemah oleh para pengepul. Pembentukan harga di tingkat petani bersifat satu arah dimana ditentukan oleh pengepul sebagai pembeli.
  8. Dalam mengurai permasalahan tata niaga atau rantai pasok produk hortikultura diperlukan aksi yang terintegrasi dan menyeluruh dengan memperhatikan system agribisnis (input, on-farm dan output).
  9. Salah satu contoh, manfaat dari pemberdayaan kelembagaan, di Jepang ada sebuah organisasi Japan Agriculture Cooperative (JA) sebagai lembaga persatuan petani yang sangat besar dan kuat posisi tawarnya. JA memiliki peran yang sangat besar dalam membimbing usaha tani serta melindungi petani dalam mekanisme pemasaran. Hal ini menjadi pemberi semangat petani karena ada kepastian rencana produksi dan pemasaran.
  10. Collective farming dan marketing dapat dipertimbangkan sebagai usulan untuk memperbaiki kondisi penataan rantai pemasaran

Rekomendasi yang dihasilkan melalui diskusi ini antara lain adalah sebagai berikut; (1) Diperlukan adanya penerapan teknologi budidaya yang maju dan manajemen pemasaran yang dapat diadopsi dari contoh-contoh kasus manajemen rantai pemasaran yang berhasil. Hal ini khsusnya untuk merubah manajemen agribisnis dengan rencana produksi yang lebih baik dan beralih dari pola kebiasaan yang pada umumnya terjadi. (2) Diharapkan bisa ada kerjasama pelatihan bagi para pelaku agribisnis unggulan (champion) maupun petani sayuran di Indonesia ke pertanian di Jepang untuk belajar manajemen agribisnis. Terlebih lagi dalam menemukan konsep collective farming dan marketing yang tepat untuk karakteristik petani di Indonesia. (3). Pemerintah harus segera membuat rancangan aksi strategis yang matang dalam mencegah terjadinya fenomena kenaikan harga yang berulang, khususnya untuk perbaikan jangka menengah dan jangka panjang.

Ditulis oleh Alfian Helmi dan Freddy Lumban Gaol

Editor: SRH