Kecil-Kecil Cabe Rawit

DSC_0009

Konnichiwa semuanya. Saat ini Sapporo sudah semakin terasa dingin menggigit ya. Ramalan cuaca pun mulai semakin membuat dahi berkerut: gerimis-hujan-hujan lebat-salju?! Tapi bagaimana pun dinginnya Sapporo saat ini, tentunya akan banyak penyemangat hati yang akan segera datang dan bisa dinikmati selama musim dingin.

Memasuki bulan ke-2 tinggal di Sapporo, saya yang biasa dipanggil Dita, juga merasakan dinginnya kota ini. Tidak pernah terlintas dalam benak saya untuk belajar sampai ke Negeri Sakura ini setelah menyelesaikan kuliah S1 di Fakultas Kedokteran Hewan. Namun, di sinilah saya sekarang, menempuh Program Doktor di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Hokkaido. Sehari-hari saya bisa ditemukan di rumah kedua saya, yaitu Divisi Molecular Pathobiology, Research Center for Zoonosis Control. Mungkin teman-teman sudah pernah dengar kata “zoonosis”. Ya, “zoonosis” berarti penyakit yang dapat menular di antara hewan dan manusia. Di sini saya belajar tentang penyakit-penyakit zoonosis. Karena saya dari jurusan Kedokteran Hewan maka fokus saya adalah penyakit yang bisa menular dari hewan ke manusia dan tentunya yang juga ada di Indonesia.

Sebagai salah satu negara yang menjadi gudang penyakit, Indonesia juga tidak luput dari yang namanya ancaman virus. Virus merupakan agen penyakit yang sangat kecil (ultramikroskopik) dan dampak yang ditimbulkan bisa sangatlah fatal, seperti cabe rawit, kecil tapi pedasnya tak terkira, bisa membuat kita yang memakannya sampai menangis. Salah satu virus yang menarik perhatian saya adalah Japanese Encephalitis (JE). Virus ini mempunyai inang perantara, yaitu nyamuk Culex. Pastinya teman-teman juga pernah dengar tentang nyamuk ini. Nyamuk ini pun juga hidup di Indonesia. Siapapun yang digigit oleh nyamuk yang membawa virus JE dapat dipastikan akan tertular. Meskipun tertular belum tentu berarti menjadi sakit tetapi kalau sampai setelah tertular tubuh kita tidak bisa menahan serangan virus JE, kita bisa mengalami radang otak dan berujung pada kematian.

Virus JE ini juga mempunyai karakteristik yang menarik. Baik anak-anak dan orang dewasa dapat terjangkit tetapi kejadian yang fatal dan berujung kematian biasanya dialami oleh anak-anak. Hal tersebut menjadi sesuatu yang menarik untuk diteliti dan itulah yang saat ini sedang saya kerjakan dalam penelitian saya, yaitu untuk menjawab pertanyaan mengapa virus JE lebih mudah masuk ke dalam sel anak-anak dibanding sel pada orang dewasa. Singkat cerita, saya sedang mencari tahu apa yang menjadi faktor dari karakteristik tersebut dari sisi inang, yaitu sel anak-anak.

Alasan menarik lainnya mengapa saya meneliti virus JE adalah hewan domestik ternyata juga menjadi inang dan hewan tersebut bisa menularkan virus JE dengan perantaraan nyamuk ke manusia. Begitu banyaknya hewan domestik di Indonesia yang diketahui dapat tertular oleh virus JE, seperti sapi, kambing, domba, babi, itik, ayam, anjing, kelinci, kuda, tikus, dan berbagai jenis burung lainnya. Itu juga berarti suatu saat, penyakit JE akan menjadi bom yang dapat memakan banyak korban jiwa. Hanya masalah waktu saja. Oleh karena itu, sangat menarik pula bagi saya untuk mencari tahu bagaimana cara mencegah penularan virus dari hewan-hewan tersebut ke manusia. Harapan saya setelah menyelesaikan studi dan penelitian saya ini, saya bisa menemukan metode atau obat yang tepat untuk mencegah dan mengobati penyakit ini. Dan tentunya, para peneliti lainnya juga tertarik untuk mencari dan mengembangkan berbagai macam riset yang nantinya juga berguna bagi Indonesia. Satu pelajaran yang saya ambil dari teman-teman di laboratorium saya adalah “Apa yang mungkin terlihat kecil dan terlupakan, belum tentu tidak berarti. Bermula dari yang kecil, sesuatu akan menjadi besar.”